Kenapa yang Bukan Perokok Bisa Kena Kanker Paru?

Sekitar 6.000 mereka bukan perokok didiagnosis kanker paru setiap tahunnya. Sebagian besar terjadi pada kaum hawa dan wanita Asia beresiko paling tinggi.

"efek samping merokok"

Kendati kemungkinan seorang bukan perokok untuk terkena kanker paru lebih kecil dibanding perokok, namun dari data di Inggris menunjukkan 41.500 kasus baru kanker payudara ditemukan setiap tahunnya. Sekitar 14 persen, atau 6.000 kasus tidak terkait dengan kebiasaan merokok. 

Kebanyakan pasien kanker paru yang bukan perokok merupaka wanita. "Secara anekdoktal, kami melihat makin banyak pasien wanita yang tidak pernah merokok namun  terdiagnosis kanker paru, dibandingkan dengan 10 tahun lalu," ujar Dr.Michael Beckles, konsultan respiratori dari Royal Free Hospital.

Apa yang menyebabkan kondisi itu belum sepenuhnya teridentifikasi. Akan tetapi para ilmuwan menduga ada kaitannya dengan faktor genetik yang dikombinasikan dengan paparan zat-zat pemicu kanker, contohnya asbestos, gas radon, bahan pelarut, asap buangan mesin diesel, hingga asap rokok orang lain. 

Faktor risiko lain adalah terapi radiasi ke dada untuk penyakit lain seperti kanker payudara atau limfoma. Bisa juga dari luka paru-paru yang berasal dari kondisi medis sebelumnya. 

Menurut Deputi British Lung Foundation, Stephen Spiro, kanker paru-paru selalu dihubungkan dengan merokok. Padahal sebelum kebiasaan merokok menyebar pada awal abad 20, penyakit ini kerap menimpa wanita bukan perokok. 

Orang yang tidak merokok biasanya menderita adenokarsinoma atau sel kanker paru tidak kecil. Kondisi ini terjadi di kelenjar yang memproduksi lendir pada jalan masuk udara ke paru-paru. 

Mereka yang tekena kanker adenokarsinoma ini juga mengalami kesalahan gentik pada protein di permukaan sel yang memicu pertumbuhan sel. 


Kabar baiknya ialah pasien yang terdiagnosis jenis kanker paru tersebut bisa mendapatkan manfaat positif dari obat-obatan kanker terbaru, misalnya gefitinib. Obat ini memperlambat keganasan penyakit tanpa adanya efek samping seperti kemoterapi.

Selain itu, beberapa penelitian masih berlangsung untuk mengenali apa penyebab kanker paru pada bukan perokok. Tetapi mencari dana untuk penelitian ini juga tak mudah karena kanker paru sering dianggap sebagai penyakit yang dicari sendiri oleh perokok. 

Diagnosa dini memang berperan besar dalam kesembuhan kanker, akan tetapi dalam kasus penyakit paru ini bukan hal yang mudah. 

"Masalahnya paru tak memiliki ambang sakit sehingga tak akan memberi peringatan bila ada sesuatu yang salah. Tak ada gejala kanker paru yang spesifik dan sulit menentukan apakah batuk atau sesak napas yang diderita karena kanker atau bukan," kata Spiro.

Ia juga menuturkan, yang memprihatinkan adalah saat batuk membandel tak kunjung sembuh, penyakitnya mungkin sudah ganas. "Pada 70 persen pasien yang berobat ke dokter, penyakitnya sudah berkembang serius," katanya. 

Pemeriksaan stkamur seperti rontgen paru pun terkadang tak mampu menemukan sel-sel kanker. "Rontgen paru punya kelemahan karena dua dimensi. Sehingga ada area tertentu, misalnya di belakang jantung, yang tak terlihat," pungkasnya. 


Meski begitu pemeriksaan pendukung dengan CT-scan biasanya cukup membantu. Karena itu sebaiknya lakukan pemeriksaan bila batuk tidak sembuh lebih dari tiga minggu atau ada penurunan berat badan tanpa sebab.

Subscribe to receive free email updates: